Admin Maxvel
/08 November 2018

Ngga Bisa Minum Susu Karena Lactose Intolerant? Coba Cek di Sini!

Admin Maxvel
“Habis minum susu, perutku langsung nggak enak gitu, deh. Kayak kembung, eneg, sakit perut, bahkan kadang-kadang sampai diare. Jangan-jangan aku lactose intolerant?”

“Wah, bisa jadi tuh. Bisa jadi kamu memang ga bisa minum susu karena lactose intolerance.”


Meski percakapan di atas sebetulnya nggak benar-benar terjadi saat artikel ini ditulis, namun kejadian di mana orang sering mengira bahwa penyebab mereka seringkali mengalami masalah pencernaan setelah minum susu itu karena lactose intolerance dapat dipastikan terjadi dan dialami banyak orang.

Sebagai sumber nutrisi dan penyempurna asupan gizi, kehebatan susu memang sudah mendunia. Siapa, sih, yang nggak tahu segudang manfaat susu? Tapi sayangnya, dikutip dari Kompas.com, ada sekitar 65 persen populasi di dunia yang memiliki masalah pencernaan terkait dengan produk susu.

Kondisi tersebut dapat dibagi menjadi dua, yaitu antara kamu seorang lactose intolerant atau alergi susu. Yup, kedua kondisi tersebut merupakan hal berbeda yang cara penanganannya pasti juga berbeda. Namun ada 1 kondisi lagi yang dikenal dengan protein intolerance. Nah yang satu ini memiliki gejala yang mirip dengan lactose intolerance dan seringkali orang menjadi salah persepsi.

Apa itu alergi susu?
Pada umumnya, alergi merupakan kondisi di mana tubuh melakukan penolakan terhadap zat asing. Artinya, alergi susu adalah kondisi di mana tubuh seseorang menolak susu--atau lebih tepatnya tidak bisa mencerna susu. Hal tersebut dapat terjadi karena sistem kekebalan tubuh salah menginterpretasikan kandungan protein dalam susu sebagai sesuatu yang berbahaya. Hasilnya, muncullah reaksi alergi yang mempengaruhi organ tubuh.

Gejala alergi susu muncul secara langsung sesudah mengonsumsi susu. Gejala-gejalanya meliputi mual, sesak napas, dan muntah. Tak jarang dapat berlanjut menjadi diare, kram perut, gatal pada kulit, dan bengkak pada bibir. Pada kasus tertentu yang lebih serius, seseorang yang alergi susu dapat mengalami anaphylaxis, yaitu reaksi alergi parah yang dapat mengancam jiwa.

Apa itu lactose intolerance?
Perlu kamu tahu kalau dalam produk susu, terdapat gula yang disebut sebagai laktosa. Nah, ketika laktosa ini memasuki sistem pencernaan, seharusnya enzim laktase mengurainya agar lebih mudah dicerna tubuh. Namun, terkadang enzim laktase pada tubuh tidak cukup atau bahkan tidak ada untuk mengurai laktosa, sehingga tubuh tidak dapat mencernanya dengan baik. Kondisi ini disebut sebagai lactose intolerance.

Namun, tingkat lactose intolerance tiap orang berbeda-beda. Maka dari itu, masih ada yang dapat mengonsumsi produk susu dengan kandungan sedikit laktosa. Tapi nggak jarang juga ada yang benar-benar harus menghindarinya.

Gejala utama lactose intolerance selalu berkaitan dengan saluran pencernaan, seperti sakit perut, kembung, mulas, muntah, dan diare. Reaksinya pun membutuhkan beberapa waktu sebelum bisa dirasakan oleh penderita.

Lalu, apa itu protein intolerance?
Jadi selain lactose intolerance, ternyata ada juga kondisi dengan gejala yang sama dimana seseorang tidak bisa mencerna salah satu protein yang ada di dalam susu.

Jauh sebelum sapi diternakkan untuk diambil hasil perahan susunya, sapi hanya menghasilkan susu dengan kandungan protein A2. Namun seiring berjalannya waktu dan juga adanya rekayasa/mutasi genetika, sapi saat ini umumnya menghasilkan susu dengan kandungan protein A1 dan protein A2. Menurut penelitian, protein A1 ini lah yang mengakibatkan rasa tidak nyaman di perut setelah minum susu seperti mual, kembung, sakit perut bahkan diare.

Hal ini disebabkan oleh protein A1 memiliki asam amino histidin, yang terletak pada posisi n67 dalam rantai protein. Asam amino histidin ini nantinya akan dipecah oleh enzim tubuh menjadi fragmen protein bernama senyawa beta-casomorphin (BCM-7). Nah, senyawa inilah yang seringkali membuat perut terasa tidak nyaman sehingga menimbulkan kondisi protein intolerance.

Sebaliknya, protein A2 tidak memiliki asam amino histidin, melainkan asam amino prolin. Maka dari itu, kamu sebenarnya masih bisa mengonsumsi susu asalkan susu tersebut hanya memiliki kandungan protein A2.

Jadi gejala pada protein intolerance hampir sama dengan kondisi lactose intolerance, hanya saja pencetusnya yang berbeda.

Bagaimana cara mengatasinya?
Dalam kasus alergi susu tidak ada cara lain selain menghindari semua hasil susu sapi, baik susu sapi itu sendiri maupun produk olahannya seperti keju, dll. Jika penderita tetap mengkonsumsi produk olahan susu, resikonya akan lebih parah daripada penderita lactose/protein intolerance karena bisa sampai mengancam nyawa.

Jika kamu mengalami kondisi lactose intolerance, kamu masih dapat mengonsumsi susu rendah laktosa atau mengganti susu sapi dengan susu kedelai atau almond.

Lain halnya dengan mereka yang protein intolerant, cara yang paling baik adalah dengan mengonsumsi susu yang mengandung hanya Protein A2, tanpa protein A1, sehingga lebih mudah dicerna dan nyaman di perut, tidak menimbulkan masalah pencernaan seperti mual ataupun kembung.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan susu yang hanya memiliki kandungan protein A2?
Untungnya saat ini sudah ada KIN Fresh Milk, pertama dan satu-satunya susu yang dihasilkan dari sapi A2. Sapi jenis ini diseleksi khusus dan hanya menghasilkan susu dengan kandungan protein A2 sehingga kamu yang protein intolerant terhadap protein A1 tetap dapat mengonsumsinya dengan aman.

Nah sudah tahu bedanya kan? Jadi, kamu termasuk yang mana? Kalau kamu protein intolerant dan masih ingin menikmati manfaat baik susu bagi tubuh, cobalah beralih kepada produk susu yang berasal dari jenis sapi A2.





Banyak orang yang ingin selalu sehat, tapi enggan menjalani gaya hidup sehat.

Di usia muda seperti saat ini, tentu kamu memiliki selusin agenda harian, bukan?

Kamu tentu tidak asing lagi dengan yogurt. Tapi bisa jadi, kamu tidak rutin mengonsumsinya, ya?